Wednesday, 26 September 2012

Tuhanku Tersayang....

Duhai Tuhan yang telah menciptakanku, Yang membuatku dari tak ada menjadi ada, Yang memberiku kesempatan untuk melihat dan menikmati dunia ini, sungguh besar sekali kasih sayangmu padaku...

Kau beri aku ibu yang senantiasa menjagaku hingga kini, seorang yang selalu terjaga setiap malam kala ku menagis dulu, yang mau menerimaku kembali walau kadang ku bentak ia, juga kau berikan aku seorang ayah.... orang  yang telah rela mengorbankan apapun demi terpenuhinya kehidupanku, orang yang dengan kegagahannya bersedia mati demi keselamatanku...

Duhai Tuhan, aku tahu seberapa besar cinta dan kasih sayang mereka padaku. Mungkin tak akan pernah teruraikan dengan kata-kata, atau mungkin tak ternilai harganya bagi mereka yang ingin membeli...

Tuhan, kini usiaku sudah beranjak dewasa... Aku bukan lagi anak-anak yang dulu mereka timang atau mereka susui... Pendidikan yang telah mereka beri padaku menghantarkanku kini ke hadapanMu. Banyaknya ilmu yang kudapat semakin membuatku mengenalmu.

Ilmu-ilmu agama kucoba pahami dan pelajari hari demi hari... Sampai tiba suatu hari kala aku baca dan resapi, Ternyata Engkau lebih menyayangiku dibanding kedua orang tuaku.... Tuhaan.... kenapa baru sekarang aku tersadar akan semua ini..? Apakah memang ini moment yang tepat bagiku untuk sadar akan kasih sayangMu yang begitu besar...?

Tuhan... ingin ku menangis diharibaanMu, bahagiaku menyertai kala kuingat cinta ini, namun sedih pula kurasa karena baru sekarang aku tersadar... Tuhanku sayang, Ibu memang menyayangiku... tapi ia tak bisa menjagaku kala malam gelap tiba.... Tuhanku sayang, dan Ayah pun memang sangat menyayangiku... namun ia pun tak mampu menjaga kala aku berada jauh diluar rumah, Tuhanku sayang, Engkau berbeda.... Engkau mampu dan selalu menjagaku dimanapun ku berada... tak peduli siang dan malam, tak peduli aku meminta atau tidak....

Tuhaanku, sungguh sangat bangga aku memilikimu, tak ada yang dapat menandingi kehebatanMu...  Benar hanya Kaulah yang Maha segalanya, terlalu bodoh dan sombonglah  mereka yang pernah mengaku sebagai Engkau Tuhan...

Ya Allah..., dalam coretan ini aku coba uraikan perasaanku. Tak mudah aku menemukanMu, tak mudah aku memahami arti cintaMu ini... butuh waktu bagiku puluhan tahun untuk mendapatkan perasaan ini... Aku mohon Tuhan, jangan engkau cabut rasa ini... rasa yang selalu membawa kedamaian serta ketenangan dalam hidup ini...

Aku tahu Tuhan, dalam perjalanan ini, banyak sekali Engkau yang lain mewarnai kehidupanku... Engkau dalam bentuk lain yang aku cintai melebihi Engkau yang sesungguhnya... Ya, aku telah melalukannya, tapi sungguh itu semua karena kebodohanku... Bukan karena aku ingin menentangMu... Maka dari itu Ya Allah, bantulah aku... bantu aku untuk memurnikan rasa ini padaMu, karena ku tahu, untuk menggapai cintaMu perlu perjuangan yang sangat besar, yang tak hanya keluar daria kata-kata dan bualan belaka...

Tuhan, selama nafas ini masih ku tarik... akan aku coba sepenuh hati melawan semua yang akan menghalangiku dari jalanMu... Mungkin akan terasa berat, tapi aku yakin bisa... Karena aku tahu Engkau akan selalu menyertaiku, mendampingi setiap langkah dan niatku... :’)


Awas Ada Kecoaaa....

Kecoa, mendengar namanya sudah pasti semua orang pernah bertemu dengan makhluk yang satu ini. Respon mereka pun tentu beragam, ada yang acuh tak acuh, lari terbirit-birit, sampai pipis dicelana ( lebay keterlaluan). Sepintas, hewan mungil ini memang biasa-biasa saja, namun sebenarnya ia memiliki banyak rahasia. Kali ini saya tidak akan mencerikatan rahsianya, karena saya tidak peduli dan membuka aib/ rahasia itu dosa, hhe. Saya lebih tertarik untuk menceritakan pengalaman saya dengan makhluk menyeramkan yang orang bilang itu Kecoa.

          Saya memang anti kecoa, bisa dibilang benci banget dengan yang namanya kecoa atau cucunguk atau lagi cenguguk dll. Bukan maksud saya untuk menyudutkan hamba Allah yang satu ini, tapi memang begini adanya. Kehadiran makhluk kecil ini  selalu membuat bulu kuduk saya berdiri dan berlari, huhu. Ini dimulai ketika saya mengalami kejadian buruk dahulu kala, dan kalian tahu, kecoalah yang menjadi pemeran utama dalam kisah itu! >.<’

          Kala itu matahari bersinar terik, dan entah mengapa perutku mulai berkontraksi meminta nasi. Aku dan kedua kakakku pun berinisiatif menggoreng udang yang ada didalam kulkas. Ibuku yang bekerja diluar memang sengaja menyiapkan udang segar yang sudah bersih, jadi jika kami lapar, kami hanya perlu menggoreng udang tersebut.

Ceritanya, saat itu aku masih kecil, jadi kedua kakakku lah yang menggoreng semua udang itu. Tak sabar menanti, udang crispy pun akhirnya matang, kemudian ia membaginya kedalam 3 piring. Kami mulai mengambil nasi dan pergi ke meja makan. Aroma udang goreng itu sangat harum dan menambah nafsu makanku. Kulihat kedua kakakku sudah mulai memakan sedikit demi sedikit udang-udang itu. Aku pun tak mau ketinggalan, kucomot 1 udang berukuran besar dan mulai mengunyahnya. Rasanya yang enak membuatku melahap lebih banyak nasi dihadapanku.

Belum lama berselang, aku memperhatikan udang-udang yang terpampang di piringku. Kelihatannya ada yang berbeda, memang sejak tadi aku memperhatikannya, tapi baru sekarang aku melihatnya lebih jelas lagi. Aku yang semakin penasaran mulai membalikkan udang goreng itu dengan sendokku. Lalu, betapa kagetnya aku ketika sadar bahwa udang yang satu itu adalah kecoaa....! Aaarrghhhhh tidaaakk..... Aku berteriak sangat kencang, wajahku yang histeris membuat kedua kakakku kaget dan segera melihat ke piringku. Sambil menangis  heboh aku tunjukkan kecoa goreng itu pada mereka! Bagaimana mungkin kecoa itu visa ikut tergoreng dengan udang-udang itu... dan sampai hari ini pun, aku masih belum mendapatkan jawabannya. Sungguh ironis...

Sambil menangis sesenggukan aku memuntahkan nasi yang ada di mulutku, tentu saja karena merasa jijik. Walaupun aku tak memakan kecoa itu, tapi tetap saja tadi ia berada bersama udang-udangku... Sungguh merupakan hari yang malang dan takkan pernah kulupakan. Yang lebih menyebalkan lagi, kedua kakakku malah mentertawakanku, bagi mereka ini merupakan cerita seru dan menyenangkan.

Huuhh, sejak saat itu, kurasakan hal yang berbeda tiapkali bertemu dengan kecoa. Rasa benci, takut, dan dendam bercampur aduk. Walaupun benci dan ingin balas dendam, tapi aku selalu takut dan lari jika melihat kecoa. Ahh tidakk, bagiku mereka seperti monster, yang walaupun kecil, tapi dapat mematikan. Tak jarang aku menabrak dinding kamar ataupun pintu kamar mandi jika aku tiba-tiba melihatnya. Sungguh, sampai kapan aku harus begini....... tidaaakkkkk

Inilah pengalamanku hidup bersama sang kecoa. Mudah-mudahan pembaca yang budiman tak mengalami hal serupa. Amin ya Allah.... Mohon maaf atas segala kekhilafan, Wassalamualaikum Wr.Wb

Monday, 17 September 2012

Menunggu Bel sekolah

Sore ini, sambil menunggu jadwal memencet bel sekolah saya duduk di depan netbook bersama beberapa rekan guru lainnya. Jadwal piket ini memaksa saya untuk berdiam di meja piket yang panjang ditemani dengan mesin bel, microfon, serta setumpukan buku-buku data siswa dan guru.

Tidaklah mudah bertugas disini, memang terdengar simpel, hanya perlu memencet bel, mendata siapa saja siswa yang melakukan pelanggaran, serta mengisi kelas yang kosong. Tapii.... sebenarnya sangat membosankan... Mataku jadi lebih mudah dan lebih ingin untuk menutup rapat, ditambah suasana ruangan yang sepi karena ditinggal para guru ke kelas, walhasil nafsu saya untuk makan jadi lebih tinggi. Mungkin terdengar aneh, tapi memang itu yang saya rasakan. Membayangkan banyaknya tukang makanan di luar sekolah membuat saya ingin mencicipinya satu per satu. 

Setelah mulai merasa kenyang dan semakin ngantuk, saya pun membuka netbook yang telah menanti untuk dinyalakan. Beberapa artikel saya baca sampai akhirnya saya rindu untuk menulis lagi. Kesibukan sekolah yang membuat saya merem melek benar-benar memberhentikan saya untuk menulis sementara. Ahh, pokoknya say kanagen dunia tulis menulis.... nantikan edisi selanjutnya yaa ceman ceman J