Halo semua, kali ini saya pingin banget share sama kalian tentang makanan yang luar biasa menggoda saya. Yup, namanya apalagi kalo bukan ‘Iga Bakar’. Mungkin kita sering mendengar pepatah ‘Tak kenal maka tak sayang’, dan ternyata saya mengalaminya sendiri!
Dahulu kala, jauh sebelum saya mengenal sang iga bakar, saya ga pernah niat pengen nyoba, ngebayanginnya juga males! Hingga pada suatu ketika, saat teman saya ngajakin makan di sekitaran salman ITB, saya ditawarin makan Iga Bakar, dan Wow... ternyata rasanya enaaakkk banget....!
Dengan seketika, Iga Bakar yang disajikan panas-panas itu mengalihkan duniaku...(emangnya Afgan! Hhe) 2 potong daging iga beserta tulang kecilnya itu nampak mengeluarkan asap-asap panas yang menggoda, ditambah aroma yang begitu dahsyat menusuk hidung anak yang kelaparan ini... Daging yang diolesi dengan kecap dan dibakar nampak begitu eksotis malam itu, dengan ditemani seporsi nasi yang dibentuk bulat dan dihiasi seiris cabe merah segar diatasnya, sungguh menarik sekali untuk dimakan. Tidak lupa, sang iga pun ditemani semangkuk sup yang siap menghangatkan badan berisi campuran paprika berwarna merah dan hijau, potongan jamur, cabe, dan sayuran lainnya.
Malam itu, benar-benar saya rasakan kenikmatan yang sungguh luar biasa dibanding dengan makanan-makanan lain. Lumpia basah, seblak, rujak, tahu jeletot, dan makanan lainnya langsung kalah posisi dihati saya! (hhee lebay mode on) Selain itu, harganya yang cukup terjangkau pun menambah nikmat suasana kelaparan saya malam itu. Saya tak peduli, apakah saat itu memang saya yang sedang sangat kelaparan sampai semua makanan terasa lezat, atau memang Iga Bakar itu yang terasa benar-benar enak, yang pasti malam itulah yang menjadi awal perkenalan saya dengan sang Iga Bakar. Sungguh pengalaman yang istimewa. Dan mulai saat itu saya menjadi seorang pecinta Iga Bakar J horeee
.jpg)
Sejauh ini, saya sudah mencicipi Iga bakar di empat tempat berbeda. Iga bakar kedua saya cicipi di daerah Jl. Riau, tepat di depan Taman Pramuka. Rasanya... masih rasa iga bakar (hhee ya iyaaalaahh) tapi menurut saya kelembutan dagingnya masih kalah dengan yang di Salman, walau harga lebih mahal...hhe. Yang selanjutnya, saya coba di sekitaran mall di Jatinangor, hmm rasanya lumayan enak.. tapi sayang porsinya lebih sedikit, walau harga lagi-lagi lebih mahal. Dan yang terakhir, saya coba di depan kampus saya, dan yang ini paling beda, sup dan dagingnya dicampur. Saya ga tau apakah ini gaya baru ato emang inisiatif si penjual, rasanya masih enak juga, harga lebih murah dari Salman, tapi tingakt kepuasannya belum sebanding salman, hhe :p
Jadi, setelah menimbang dan memutuskan, saya bisa ambil kesimpulan bahwa iga bakar yang di Salman itu memang benar-benar yang paling enak yang pernah saya coba. Harga pas, rasa puas....! Woww pertemuan pertama memang paling berkesan :D
Salam Iga Bakar..... hhhaa nantikan edisi selanjutnya yang akan ngebahas kuliner terkenal dari padang. Jangan kemana-mana ya.....