Saturday, 19 January 2013

Menjelang KKM 2013


Hari berganti hari.. tak terasa sudah 7 semester saya lalui di kampus UIN ini. Rasanyaaa, ohhh macem macem-macem, ada manisnya, asemnya, bahkan paitnya, semua sudah pernah dicoba. Dan beberapa hari kedepan, adalah saatnya bagi saya untuk melaksanakan KKM ( Kuliah Kerja Mahasiswa). 

Kegiatan tahunan ini akan dilaksanakan selama 1 bulan dan terletak di Kota dan Kabupaten Sukabumi. Beruntung aku ditempatkan di Kabupaten, aku berharap mendapatkan suasana pedesaan, persis seperti di film-film atau FTV, hhhaaa. Entah mengapa, rasanya deg degan menjelang kepergian, tapi ada juga rasa senang ketika membayangkan bergabung dengan masyarakat disana nanti, Wow banget deh kayanya. Ya, mudah-mudahan saja saya ga manyun karena kangen keluarga, kerna memang saya belum pernah jauh dari keluarga sebelumnya, hhee.

Pokoknya buat KKM 2013 ini, saya doakan mudah-mudahan saya beserta semua kelompok dimudahkan dan lancar semuanyaa, Aminnn ya Allah :D
hahaha

Juz Ama

Seperti biasa aku selalu menuliskan hal-hal yang kuanggap berkesan dalam hidupku. Hari ini aku ingin berbagi dengan pembaca sekalian tentang ceritaku saat menghapalkan surat-surat di juz terakhir Al-Qur’an. Ya, entah  terdengar rajin, aneh, atau bahkan lucu, yang jelas hal itu benar-benar sedang aku lalukan. Mulai tahun ini, kampusku mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk hafal 1 juz Al-Qur’an sebagai syarat mengikuti sidang, dan bagiku ini sungguh WOW, hahahaha.
Awalnya memang sangat kaget sekali aku mendengarnya, tak terbayang bagaimana susahnya menghafalkan surat-surat panjang yang hampir satu halaman itu.  Setiap kali aku membayangkannya saja sudah shock dan yakin tidak mampu.

Namun, waktu terus bergulir, hingga aku melihat beberapa temanku mulai hafal sedikit sedikit surat-surat panjang itu. Tentu saja, aku kembali berfikir, kalau mereka saja bisa, kenapa aku tidak? Mulai hari itu tumbuhlah perlahan rasa yakin dan percaya diri untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang sebelumnya sangat aku takuti itu. Dan yapp, aku yang sebelumnya hanya menghafal surat-surat pendek seperti At-Thariq, Al-Bayyinah, dll pun mulai terbiasa dan bisa menghafal surat yang agak lebih panjang. Walaupun memang diakui butuh waktu untuk menghafalnya sampai fasih, aku terus berusaha. Salah satu trik mudah untuk membiasakannya ialah dengan membaca surat-surat tersebut di dalam setiap rakaat shalat yang kita lakukan, ini benar-benar ampuh lohh teman, kalo ga percaya boleh dicoba :D . Ada juga trik selanjutnya, yaitu mp3, dengan mendengarkan murratal qur’an yang sudah bisa kita dapatkan dimana-mana, kita bisa membiasakan mendengarkan qur’an ini, tak terasa lidah kita pun akan lancar membaca ayat-demi ayat Al-Quran. Selanjutnya adalah trik terakhir, kalo yang satu ini sih agak aneh juga, kalin pastinya punya waktu luang kan, yang biasa dipake bengong, nongkrong ga jelas, ato mungkin dipake tidur... Nah coba deh waktu loong itu diganti dengan menghafal surat-surat yang sudah kita hafalin sebelumnya, yaa itung-itung nelancarin aja, ga usah terlalu serius, kalo kata orang tu ‘Sersan’ serius tapi santai :D

Nahhh, itu tadi cerita tentang Juz Ama yang happy ending, duh sampai terharu saya teh nulisnya juga... hhahha lebay. Mudah-mudahan bisa jadi pembelajaran buat kita semua, kalo ternyata ngafalin qur’an itu ga sesusah dan seseram yang kita bayangin. Kalo kita mau percaya, dan terus usaha, pasti bisa ko J

Saturday, 12 January 2013

Kenek Jadi-jadian

Sore itu , sepulang mengajar di salah satu tempat les di kota Bandung, seperti biasanya aku pun berjalan menghampiri tempat duduk– tempat mangkal ojek- untuk menunggu bis yang akan membawaku pulang ke rumah. Rintik-rintik hujan yang sedari tadi menemani kepulanganku pun perlahan hilang. Tak terasa beberapa menit berlalu hingga bis yang ku tunggu pun tiba. Dengan sumringah karena cepatnya ia datang membuat ku bangkit seketika dan langsung naik kedalam bis. Aku sengaja memilih kursi paling  pinggir di dekat pintu, karena aku sangat paham bahwa beberapa menit lagi bis itu akan menjadi sangat penuh, ya penuh, sesak sesesak-sesaknya. Dan jika saja aku pilih kursi di bagian tengah, apalagi belakang, pasti akan sangat sulit bagiku untuk turun nanti. 

Sebenarnya yang aku tumpangi ini bukanlah bis, banyak orang bilang ini namanya kotrima. Ya apapun itu, entah kotrima, kobutri, dll aku tetap ingin menyebutnya bis, agar terlihat simple dan mudah dibayangkan – Sebenarnya sih karena aku ga tau apa bedanya kotrima, kobutri, dan bis ! :p –.

Setelah melewati satu perempatan dan beberapa titik macet di pusat kota Bandung ini, bis pun akhirnya melewati satu pabrik dimana banyak sekali karyawannya yang baru saja keluar pabrik. Baju mereka yang berwarna biru terlihat seperti bobotoh Persib yang keluar dari stadion, hhaaa aku tertawa saja membayangkannya. Tak berapa lama bis pun mulai sesak oleh para penumpang berbaju biru tadi.

Setiap akhir minggu aku lewati seperti hari ini, sehingga sudah sangat terbiasa dengan penuh sesak dan nyanyian para pengamen di bis ini. Namun ternyata ada hal yang tak biasa hari ini. Ya, aku baru saja sadar bahwa tak ada kenek di bis ini! Hhaa biasanya baru saja duduk di kursi, sang kenek sudah langung menghampiri menagih rupiah, tapi hari ini ia sungguh tak terlihat batang hidungnya.

Aku mulai memikirkan hal tak penting ini. Kasian sekali supirnya, mengemudi sendirian tak ditemani sang kenek tercinta. Lalu bagaimana jika ada penumpang yang turun dan lupa tidak membayar? Atau bahkan memang sengaja pura-pura sudah bayar? Atau mungkin penumpang yang baik akan membayar dahulu kedepan dan kemudian turun? Atau mungkin sebenarnya dia itu pencuri bis yang diam-diam mencari rupiah? Yaa hal-hal seperti itulah yang berkecamuk dibenakku saat itu. Benar-benar tidak penting.

Rupanya, bukan aku saja yang punya imajinasi seperti itu, para karyawan pabrik tadi yang semuanya perempuan pun ternyata menyadari hal yang sama. Mereka mulai bertanya satu persatu pada sopir tentang keberadaan keneknya. Setelah sadar bahwa tak ada kenek di bis ini, tiba-tiba salah satu dari karyawan pabrik tadi yang duduk tepat disebelah sopir berdiri. Aku pikir hanya bercanda, ternyata dia benar-benar memungut uang dari penumpang lain. Hhaaa aku kaget melihatnya, wanita cantik bertubuh mungil itu ternyata punya keahlian yang cukup bagus dalam hal tagih menagih uang. Tak hanya teman-temannya saja yang menertawakannya saat itu, ia sendiri pun tertawa melihat tingkahnya. Setelah menagih semua fee penumpang ia pun dengan cekatan memberi uang tersebut pada pak sopir. Kami semua terhibur walau dengan kejadian singkat itu.

Sebenarnya banyak sekali cerita-cerita konyol yang terjadi didalam bis, tak hanya hari itu saja aku mengalaminya. Yang pasti, jika kita mau mencoba untuk menikmati semua kejadian, pasti akan banyak hal-hal baru yang kita dapatkan. Persis seperti kenek jadi-jadian tadi.  :D