Friday, 25 November 2011

Bilal Bin Rabah, Sang Muadzin Rasulullah

Bilal ialah seorang budak yang tidak punya kekuasaan apapun. Semua kehidupannya bergantung pada sang tuan, Umayah bin Khalaf. Suatu waktu orang-orang ramai membicarakan rasulullah beserta agama yang dibawanya, termasuk tuan Bilal dan teman-temannya pun ramai memergunjingkan rasul dan ajaran suci yang dibuatnya. Mereka sebenarnya mengakui kebaikan Nabi, kejujuran, ketulusan, serta akhlak nabi, hanya saja mereka mengingkari Nabi karena mereka begitu kuatnya mempertahankan tradisi nenek moyang mereka yang menyembah berhala. 
Karena keingintahuannya yang besar, maka pergilah Bilal untuk menemui rasul dan menyatakan keislamannya. Kemudian selanjutnya, Bilal menyembunyikan keislamannya hingga pada suatu hari majikannya mengetahui bahwa ia telah masuk islam. Umayah dan teman-temannya pun kalap dan marah besar, walaupun pada awalnya ia berfikir dengan masuknya 1 orang budak ini tentu tidak akan mungkin membuat islam jaya.
Cobaan pun mulai mendera Bilal. Dalam keadaan tak berbusana, Bilal dibaringkan di atas bara agar ia mau meninggalkan agamanya dan mencabut pengakuannya, namun ia menolak.  Lalu pada suatu waktu di tengah hari yang sangat panas, ia dilempar keluar dalam keadaan tak berbusana. Ia dilempar pada pasir yang sangat panas, lalu dalam keadaan berbaring, dijatuhkanlah baru besar yang sangat besar dan panas keatas tubuh dan dadanya. Siksaan kejam ini terus mereka lakukan hampir setiap agar Bilal mau meninggalkan islam dan kembali menyembah Uzza dan Lata, berhala yang disembah sang tuan.
Namun keteguhan hati Bilal yang selalu menolak membuat Umayah bin Khalaf pun lelah dan hampir putus asa. Suatu saat ketika Bilal kembali disiksa, datanglah Abu Bakar kemudian ia pun menebus Bilal dan membebaskannya dari Umayah bin Khalaf. Bilal pu  akhirnya mengikuti rasul hijrah ke Madinah. Suatu ketika tentara quraisy datang menyerang Madinah dan terjadilah peperangan. Pada perang badar tersebut, Umayah bin Khalaf pun akhirnya mati ditangan Bilal, orang yang selama ini menjadi bulan-bulanannya. Hari-hari berlalu, kemudian Mekah pun dibebaskan. Rasul beserta kaum muslimin memasuki kabah dan membersihkan semua berhala-berhala yang ada disana. Pada akhir kehidupannya, Bilal berpulang ke Rahmatullah di Syiria sebagai pejuang dijalan Allah sesuai dengan keinginnannya. 

Mushab Bin Umair, Duta Pertama Islam

Mushab Bin Umair ialah seorang pemuda yang berasal dari keluarga yang kaya. Wajahnya yang tampan pun semakin melengkapi kehidupannya. Ia tumbuh dalam kasih sayang dan kemanjaan dari orang tuanya. Suatu ketika, ia melihat rombongan orang-orang sering mendatangi pengajian rasul dan belajar agama di suatu tempat. Ia pun penasaran dan akhirnya secara diam-diam mengikuti mereka dan datang pada rasul. Disana, ia begitu terpana akan ayat-ayat Allah yang ia dengar. Ia memiliki seorang ibu yang sangat disegani karena pendiriannya yang begitu kuat. Dan ketika Mushab bin Umair masuk islam, tak ada ketakutan yang ia rasakan kecuali kekhawatirannya pada ibunda tercinta yang begitu kukuh pada berhalanya. 
Hingga pada suatu saat, ada seorang bernama Usman Bin Thalhah melihat Mushab Bin Umair mengikuti pengajian dan shalat seperti rasulullah. Ia pun menyampaikan keislaman Mushab pada ibunya dan begitu marahlah ia pada Mushab hingga ia pun di kurung di rumah dan tidak boleh pergi keluar. Ia pun mencari cara agar bisa keluar, dan berhasil. Dengan segera Mushab ikut hijrah bersama rasullalu kembali lali ke Mekah. Ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mushab pada agama sebelumnya, maka ia pun mengusirnya dan sekarang Mushab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang didapatnya selama ini. Namun, jiwanya sekarang telah dihiasi oleh keindahan islam yang membuatnya merasa jauh lebih baik. 
Suatu hari, ia dipilih rasulullah untuk mengemban amanah penting. Ia menjadi duta pertama untuk pergi ke Madinah mengajarkan seluk beluk Islam pada orang-orang anshar yang telah beriman dan berbai’at pada rasul. Ia pun pergi dan menjalankan misinya. Walaupun sempat mengalami banyak tentangan, namun ia berhasil melewatinya dan islam pun tersebar di hampir seluruh penduduk Madinah. Kesuksesan ini kian menambah geram orang-orang Quraisy pada rasul dan ajarannya, hingga terjadilah perang Uhud.
Tidak seperti perang Badar, disini kaum muslimin tidak mendapat kemenangan. Terjadi kekacauan dalam tentara kaum muslimin ketika mereka yang berada di bukit turun kebawah tanpa komandu rasul, mereka melihat bahwa tentara Quraisy sudah kalah dan berbondong-bondong turun kebawah, padahal saat situasi seperti ini, pasukan Quraisy kembali menyerang dan sempat mengancam keselamatan kaum muslimin dan rasulullah. 
Disini, Mushab bertempur dengan tekadnya yang besar.  Sebelah tangannya memegang bendera sedang tangan lainnya memegang pedang.  Namun sayang, ketika dalam peperangan, Ibnu Qumaiah seorang musuh, menebas tangannya hingga putus, sementara ia berucap ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa rasul’, kedian ditebaslah lagi tangan kirinya itu, dan sambil tertatih ia kembali  berucap ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa rasul’. Lalu orang berkuda itu kembali menyerangnya yang ketiga kali dengan tombak dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mushab pun akhirnya gugur. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada.


Thursday, 17 November 2011

Abu Hurairah, Sahabat Nabi dengan Daya Ingat yang Sangat Baik

Abu hurairah merupakan sahabat Rasul yang sangat pandai dalam hal daya ingat. Ia merupakan seorang yang miskin namun taat, dulu ia merupakan pembantu dari keluarga Busrah, namun pada akhirnya ia dapat menikahi putrid Busrah dengan izin Allah SWT. Karena ia merupakan seorang miskin yang tak punya perniagaan yang harus diurus, lahan pertanian yang harus dikelola, ia memiliki waktu yang lebih luang dan banyak untuk selalu berada bersama Rasullullah. Ia menghabiskan hari-harinya bersama Nabi untuk mengejar ketertinggalan ilmu agama, disebabkan ia merupakan orang yang belakangan masuk islam. Abu hurairah memiliki daya ingat yang sangat baik. Semua hadis yang ia dapat dari Rasul selalu ia ingat dan sampaikan ulang pada sahabat-sahabat yang lain, bahkan banyak orang mengira bahwa ia mengada-ada karena tahu jauh banyak hal mengenai rasul, padahal itu semua karena ia selalu berada bersama rasul ketika sahabat yang lainnya sibuk dengan urusan dagang mereka.
Dulu, pernah ada orang-orang yang bermaksud untuk menguji daya ingatnya, ia bernama Marwan Bin Hakam, ia mengundang Abu Hurairah dan memintanya untuk menceritakan apa-apa tentang Nabi, lalu secara diam-diam dia meminta sekretarisnya untuk mencatat semua hal yang diucap Abu Hurairah dari balik bilik, kemudian setahun kemudian ia kembali menanyakan Abu Hurairah tentang rasulullah, dan ternyata tak ada sepatah kata pun yang ia lupa! Subhanallah.