Sunday, 21 April 2013

Semester Akhir, Antara Bahagia dan Duka


Wisuda, satu kata yang penuh arti. Bagi kebanyakan teman seangkatanku, wisuda merupakan satu kata yang sangat mereka idamkan, begitu bergelora dan menggebu dalam dada. Maklum, namanya juga mahasiswa semester akhir, mungkin orientasinya sudah berbeda dengan mereka yang baru saja menginjak bangku universitas. Lulus, melanjutkan S2, bekerja, menikah, punya anak, hhhaa kata-kata itu semakin akrab ditelingaku pasca menyandang gelar mahasiswa semsester akhir. 

Ya, aku juga termasuk salah satu dari mereka semua, yang begitu menginginkan wisuda, mengakhiri bangku perkuliahan dan memulai babak baru kehidupan. Pastinya akan sangat banyak tantangan di depan. Tapi memang begitulah kehidupan berputar. Semua harus dilewati dan tentunya dibekali dengan ilmu dan agama agar semua tetap berjalan sesuai pada porosnya.

Disatu sisi, duka juga ku rasakan saat ini.  Hampir setiap malam sebelum tidur ku jelang, beberapa lama aku memikirkan tentang hal-hal apa saja yang sudah aku lakukan semasa kuliah ini. Dimulai dari semester pertamaku, kedua, ketiga, dan seterusnya hingga aku berada di akhir semester. Dan setiap kali aku memikirkan itu, perasaanku tak pernah puas. Memang, ada banyak hal menyenangkan yang telah kulewati, mengikuti berbagai macam kegiatan, berlomba mendapatkan IP, bergabung dengan organisasi, klub, dan masih banyak lagi. Tapi belum cukup aku rasakan. Nampaknya, masih banyak hal yang belum aku capai, belum aku realisasikan, belum aku wujudkan. Dan aku masih berharap untuk mewujudkan semuanya. Aku pikir aku punya lebih banyak tenaga untuk berusaha, namun apa daya, waktuku tak memberi. Ya, mudah-mudahan saja di waktu kedepan aku bisa melakukan hal-hal yang lebih memuaskan hatiku. Agar perasaan semacam ini dapat terbayarkan. 

Bagiku, wisuda itu hanya sebuah ceremony. Walapun ia ada di akhir bangku perkuliahan, tapi bukan akhir dari belajar dan perjuangan. Justru dengan wisuda itulah aku akan dan bisa belajar lebih banyak lagi, bukan hanya teori, tapi juga praktik. 

Salam mahasiswa!



Sunday, 3 March 2013

Kenangan Masa KKM 2013

               Hari ini adalah hari ke 10 semenjak KKM 1 bulan kemarin berakhir. Hmm aku kembali pada rutinitasku... Kuliah, skripsi, mengajar, siaran, dll. Bangun pagi, menjalankan aktifitas, kemudian pulang kerumah dan tidur kembali. Ya, rasanya kembali ke hari-hari dahulu sebelum aku terlibat di KKM. Aktivitasku memang menyenangkan, menjalani hari dengan hobi dan kegiatan favoritku, bertemu dengan teman-teman dan saudara saudaraku kembali, bercengkrama tentang hal-hal terbaru dan pengalaman masing-masing.
Namun jauh di balik itu semua, dalam setiap menit kosongku, di setiap detik istirahatku, selalu berkelibat cerita-cerita, kenangan-kenangan indah yang membekas begitu saja tentang kehadiran sahabat-sahabat terbaikku di sukabumi itu. Bukan, mereka bukan sahabat, tapi mungkin lebih tepatnya keluarga. Ya, sebuah keluarga sederhana yang berasal dari berbagai macam daerah dan memiliki beragam sifat dan kepribadian.
Sangat sulit bagiku untuk tidak mengingat mereka dikeseharianku sekarang. Hampir setiap hari kubuka notebook dan hanphone-ku hanya untuk sekedar melihat foto-foto dan memutar kembali semua video yang merekam hal-hal tentang mereka semua. Kalian semua, dogong favoritku :D hhhaaaa, entah darimana asalnya, celetukan ‘dugong’ akhirnya menjadi ciri khas kami, dan kata itulah yang membuat kami semakin dekat dan hangat.
Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku sampaikan, tapi nampaknya perasaan itu tak kan pernah cukup menggambarkan kebahagiaanku bersama kalian semua. Itu adalah kali pertama aku jauh dari keluargaku di Bandung, itu juga adalah kali pertama aku merasa menjadi anak kos, yang harus tinggal di tempat baru, melayani semua kebutuhan sendiri, dan bergabung bersama penghuni laiinya. Hhaaa sangat lucu sekali rasanya, pengalaman pertama memang sangat berkesan bagiku.
Sejuta syukur ku haturkan pada Tuhan-ku tersayang karena telah menuliskan cerita-cerita indah ini di Lauh Mahfudz-Nya, membuatku merasakan kembali renyahnya tawa riang gembira, hangatnya kekeluargaan, dan kuatnya persahabatan.



Thursday, 7 February 2013

Keluarga Baruku

Dear reader, hari ini aku pingin banget cerita sama kalian tentang keluarga baruku. Banyak orang bilang kalau keluarga itu adalah suatu komponen terpenting bagi hidup seseorang. Merekalah yang bisa membangkitkan bahkan meredupkan semangat kita untuk tetap hidup. Senja ini, di ruang tengah rumah, aku duduk sambil menulis dan mendengarkan guyonan teman-teman KKM-ku. Ya, dirumah inilah semuanya terjadi. 

Oya, biar ku perkenalkan dahulu siapa itu keluarga baruku. Cerita dimulai ketika kami para mahasiswa semester akhir mendapat tugas untuk melaksanakan KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa). Dari ribuan mahasiswa angkatan 2009 UIN Sunan Gunung Djati, namaku terpampang di sudut papan pengumuman itu. Kelompok 95 Desa Warnajati, Kec. Cibadak, Kab. Sukabumi, yaa.... sodara-sodara disinilah semuanya bermula. Dengan 11 orang anggota yang berasal dari 10 jurusan berbeda, aku merasa akan sedikit kesulitan untuk bersosialisasi dengan mereka. Namun, semua itu terbantahkan sejenak setelah aku bertemu dengan mereka bahkan untuk yang pertama kalinya. 

Di pojok mesjid, tempat pertamakali kami bertemu, aku merasa cukup lega setelah melihat siapa saja yang akan menjadi keluarga baruku di Desa Warnajati, mereka adalah Siti Nurohmah (Nuh), Reni Anggraeni (Rere), Abibah (Bibib), Rima Rizqia (Ima), Roni (om), Rukman (tante), Salman (Aman), Cahyanto (ato), Ajang (om), dan Hariri. Semua nama-nama diatas adalah keluarga baruku, keluarga kecil yang begitu hangat dan sangat bercorak dalam mewarnai kertas kehidupanku. 

Awalnya senyum-senyum lembut mereka terpancar begitu santai, namun seiring waktu berlalu di pojok mesjid UIN, karakter mereka pun mulai terpancar nyata. Memang tak bisa dipungkiri, selera humor mereka cukup tinggi, bahkan mungkin terlalu tinggi, sampai-sampai tak butuh waktu lama bagi kami untuk bisa melebur satu dan menjalin kekeluargaan yang begitu hangat dan kokoh. 

Aku sangat beruntung, aku sangat bahagia, dan aku sangat bersyukur memiliki kalian semua... Keluargaku , tak kan terlupakan :')

Saturday, 19 January 2013

Menjelang KKM 2013


Hari berganti hari.. tak terasa sudah 7 semester saya lalui di kampus UIN ini. Rasanyaaa, ohhh macem macem-macem, ada manisnya, asemnya, bahkan paitnya, semua sudah pernah dicoba. Dan beberapa hari kedepan, adalah saatnya bagi saya untuk melaksanakan KKM ( Kuliah Kerja Mahasiswa). 

Kegiatan tahunan ini akan dilaksanakan selama 1 bulan dan terletak di Kota dan Kabupaten Sukabumi. Beruntung aku ditempatkan di Kabupaten, aku berharap mendapatkan suasana pedesaan, persis seperti di film-film atau FTV, hhhaaa. Entah mengapa, rasanya deg degan menjelang kepergian, tapi ada juga rasa senang ketika membayangkan bergabung dengan masyarakat disana nanti, Wow banget deh kayanya. Ya, mudah-mudahan saja saya ga manyun karena kangen keluarga, kerna memang saya belum pernah jauh dari keluarga sebelumnya, hhee.

Pokoknya buat KKM 2013 ini, saya doakan mudah-mudahan saya beserta semua kelompok dimudahkan dan lancar semuanyaa, Aminnn ya Allah :D
hahaha

Juz Ama

Seperti biasa aku selalu menuliskan hal-hal yang kuanggap berkesan dalam hidupku. Hari ini aku ingin berbagi dengan pembaca sekalian tentang ceritaku saat menghapalkan surat-surat di juz terakhir Al-Qur’an. Ya, entah  terdengar rajin, aneh, atau bahkan lucu, yang jelas hal itu benar-benar sedang aku lalukan. Mulai tahun ini, kampusku mewajibkan seluruh mahasiswanya untuk hafal 1 juz Al-Qur’an sebagai syarat mengikuti sidang, dan bagiku ini sungguh WOW, hahahaha.
Awalnya memang sangat kaget sekali aku mendengarnya, tak terbayang bagaimana susahnya menghafalkan surat-surat panjang yang hampir satu halaman itu.  Setiap kali aku membayangkannya saja sudah shock dan yakin tidak mampu.

Namun, waktu terus bergulir, hingga aku melihat beberapa temanku mulai hafal sedikit sedikit surat-surat panjang itu. Tentu saja, aku kembali berfikir, kalau mereka saja bisa, kenapa aku tidak? Mulai hari itu tumbuhlah perlahan rasa yakin dan percaya diri untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang sebelumnya sangat aku takuti itu. Dan yapp, aku yang sebelumnya hanya menghafal surat-surat pendek seperti At-Thariq, Al-Bayyinah, dll pun mulai terbiasa dan bisa menghafal surat yang agak lebih panjang. Walaupun memang diakui butuh waktu untuk menghafalnya sampai fasih, aku terus berusaha. Salah satu trik mudah untuk membiasakannya ialah dengan membaca surat-surat tersebut di dalam setiap rakaat shalat yang kita lakukan, ini benar-benar ampuh lohh teman, kalo ga percaya boleh dicoba :D . Ada juga trik selanjutnya, yaitu mp3, dengan mendengarkan murratal qur’an yang sudah bisa kita dapatkan dimana-mana, kita bisa membiasakan mendengarkan qur’an ini, tak terasa lidah kita pun akan lancar membaca ayat-demi ayat Al-Quran. Selanjutnya adalah trik terakhir, kalo yang satu ini sih agak aneh juga, kalin pastinya punya waktu luang kan, yang biasa dipake bengong, nongkrong ga jelas, ato mungkin dipake tidur... Nah coba deh waktu loong itu diganti dengan menghafal surat-surat yang sudah kita hafalin sebelumnya, yaa itung-itung nelancarin aja, ga usah terlalu serius, kalo kata orang tu ‘Sersan’ serius tapi santai :D

Nahhh, itu tadi cerita tentang Juz Ama yang happy ending, duh sampai terharu saya teh nulisnya juga... hhahha lebay. Mudah-mudahan bisa jadi pembelajaran buat kita semua, kalo ternyata ngafalin qur’an itu ga sesusah dan seseram yang kita bayangin. Kalo kita mau percaya, dan terus usaha, pasti bisa ko J

Saturday, 12 January 2013

Kenek Jadi-jadian

Sore itu , sepulang mengajar di salah satu tempat les di kota Bandung, seperti biasanya aku pun berjalan menghampiri tempat duduk– tempat mangkal ojek- untuk menunggu bis yang akan membawaku pulang ke rumah. Rintik-rintik hujan yang sedari tadi menemani kepulanganku pun perlahan hilang. Tak terasa beberapa menit berlalu hingga bis yang ku tunggu pun tiba. Dengan sumringah karena cepatnya ia datang membuat ku bangkit seketika dan langsung naik kedalam bis. Aku sengaja memilih kursi paling  pinggir di dekat pintu, karena aku sangat paham bahwa beberapa menit lagi bis itu akan menjadi sangat penuh, ya penuh, sesak sesesak-sesaknya. Dan jika saja aku pilih kursi di bagian tengah, apalagi belakang, pasti akan sangat sulit bagiku untuk turun nanti. 

Sebenarnya yang aku tumpangi ini bukanlah bis, banyak orang bilang ini namanya kotrima. Ya apapun itu, entah kotrima, kobutri, dll aku tetap ingin menyebutnya bis, agar terlihat simple dan mudah dibayangkan – Sebenarnya sih karena aku ga tau apa bedanya kotrima, kobutri, dan bis ! :p –.

Setelah melewati satu perempatan dan beberapa titik macet di pusat kota Bandung ini, bis pun akhirnya melewati satu pabrik dimana banyak sekali karyawannya yang baru saja keluar pabrik. Baju mereka yang berwarna biru terlihat seperti bobotoh Persib yang keluar dari stadion, hhaaa aku tertawa saja membayangkannya. Tak berapa lama bis pun mulai sesak oleh para penumpang berbaju biru tadi.

Setiap akhir minggu aku lewati seperti hari ini, sehingga sudah sangat terbiasa dengan penuh sesak dan nyanyian para pengamen di bis ini. Namun ternyata ada hal yang tak biasa hari ini. Ya, aku baru saja sadar bahwa tak ada kenek di bis ini! Hhaa biasanya baru saja duduk di kursi, sang kenek sudah langung menghampiri menagih rupiah, tapi hari ini ia sungguh tak terlihat batang hidungnya.

Aku mulai memikirkan hal tak penting ini. Kasian sekali supirnya, mengemudi sendirian tak ditemani sang kenek tercinta. Lalu bagaimana jika ada penumpang yang turun dan lupa tidak membayar? Atau bahkan memang sengaja pura-pura sudah bayar? Atau mungkin penumpang yang baik akan membayar dahulu kedepan dan kemudian turun? Atau mungkin sebenarnya dia itu pencuri bis yang diam-diam mencari rupiah? Yaa hal-hal seperti itulah yang berkecamuk dibenakku saat itu. Benar-benar tidak penting.

Rupanya, bukan aku saja yang punya imajinasi seperti itu, para karyawan pabrik tadi yang semuanya perempuan pun ternyata menyadari hal yang sama. Mereka mulai bertanya satu persatu pada sopir tentang keberadaan keneknya. Setelah sadar bahwa tak ada kenek di bis ini, tiba-tiba salah satu dari karyawan pabrik tadi yang duduk tepat disebelah sopir berdiri. Aku pikir hanya bercanda, ternyata dia benar-benar memungut uang dari penumpang lain. Hhaaa aku kaget melihatnya, wanita cantik bertubuh mungil itu ternyata punya keahlian yang cukup bagus dalam hal tagih menagih uang. Tak hanya teman-temannya saja yang menertawakannya saat itu, ia sendiri pun tertawa melihat tingkahnya. Setelah menagih semua fee penumpang ia pun dengan cekatan memberi uang tersebut pada pak sopir. Kami semua terhibur walau dengan kejadian singkat itu.

Sebenarnya banyak sekali cerita-cerita konyol yang terjadi didalam bis, tak hanya hari itu saja aku mengalaminya. Yang pasti, jika kita mau mencoba untuk menikmati semua kejadian, pasti akan banyak hal-hal baru yang kita dapatkan. Persis seperti kenek jadi-jadian tadi.  :D