Kecoa, mendengar namanya
sudah pasti semua orang pernah bertemu dengan makhluk yang satu ini. Respon
mereka pun tentu beragam, ada yang acuh tak acuh, lari terbirit-birit, sampai
pipis dicelana ( lebay keterlaluan). Sepintas, hewan mungil ini memang
biasa-biasa saja, namun sebenarnya ia memiliki banyak rahasia. Kali ini saya
tidak akan mencerikatan rahsianya, karena saya tidak peduli dan membuka aib/
rahasia itu dosa, hhe. Saya lebih tertarik untuk menceritakan pengalaman saya
dengan makhluk menyeramkan yang orang bilang itu Kecoa.
Saya
memang anti kecoa, bisa dibilang benci banget dengan yang namanya kecoa atau
cucunguk atau lagi cenguguk dll. Bukan maksud saya untuk menyudutkan hamba
Allah yang satu ini, tapi memang begini adanya. Kehadiran makhluk kecil
ini selalu membuat bulu kuduk saya
berdiri dan berlari, huhu. Ini dimulai ketika saya mengalami kejadian buruk
dahulu kala, dan kalian tahu, kecoalah yang menjadi pemeran utama dalam kisah
itu! >.<’
Kala
itu matahari bersinar terik, dan entah mengapa perutku mulai berkontraksi
meminta nasi. Aku dan kedua kakakku pun berinisiatif menggoreng udang yang ada
didalam kulkas. Ibuku yang bekerja diluar memang sengaja menyiapkan udang segar
yang sudah bersih, jadi jika kami lapar, kami hanya perlu menggoreng udang
tersebut.
Ceritanya, saat itu aku masih
kecil, jadi kedua kakakku lah yang menggoreng semua udang itu. Tak sabar
menanti, udang crispy pun akhirnya matang, kemudian ia membaginya kedalam 3
piring. Kami mulai mengambil nasi dan pergi ke meja makan. Aroma udang goreng
itu sangat harum dan menambah nafsu makanku. Kulihat kedua kakakku sudah mulai memakan
sedikit demi sedikit udang-udang itu. Aku pun tak mau ketinggalan, kucomot 1
udang berukuran besar dan mulai mengunyahnya. Rasanya yang enak membuatku
melahap lebih banyak nasi dihadapanku.
Belum lama berselang, aku
memperhatikan udang-udang yang terpampang di piringku. Kelihatannya ada yang
berbeda, memang sejak tadi aku memperhatikannya, tapi baru sekarang aku
melihatnya lebih jelas lagi. Aku yang semakin penasaran mulai membalikkan udang
goreng itu dengan sendokku. Lalu, betapa kagetnya aku ketika sadar bahwa udang
yang satu itu adalah kecoaa....! Aaarrghhhhh tidaaakk..... Aku berteriak sangat
kencang, wajahku yang histeris membuat kedua kakakku kaget dan segera melihat
ke piringku. Sambil menangis heboh aku
tunjukkan kecoa goreng itu pada mereka! Bagaimana mungkin kecoa itu visa ikut
tergoreng dengan udang-udang itu... dan sampai hari ini pun, aku masih belum
mendapatkan jawabannya. Sungguh ironis...
Sambil menangis sesenggukan
aku memuntahkan nasi yang ada di mulutku, tentu saja karena merasa jijik.
Walaupun aku tak memakan kecoa itu, tapi tetap saja tadi ia berada bersama
udang-udangku... Sungguh merupakan hari yang malang dan takkan pernah
kulupakan. Yang lebih menyebalkan lagi, kedua kakakku malah mentertawakanku,
bagi mereka ini merupakan cerita seru dan menyenangkan.
Huuhh, sejak saat itu,
kurasakan hal yang berbeda tiapkali bertemu dengan kecoa. Rasa benci, takut, dan
dendam bercampur aduk. Walaupun benci dan ingin balas dendam, tapi aku selalu
takut dan lari jika melihat kecoa. Ahh tidakk, bagiku mereka seperti monster,
yang walaupun kecil, tapi dapat mematikan. Tak jarang aku menabrak dinding
kamar ataupun pintu kamar mandi jika aku tiba-tiba melihatnya. Sungguh, sampai
kapan aku harus begini....... tidaaakkkkk
Inilah pengalamanku hidup bersama
sang kecoa. Mudah-mudahan pembaca yang budiman tak mengalami hal serupa. Amin
ya Allah.... Mohon maaf atas segala kekhilafan, Wassalamualaikum Wr.Wb
No comments:
Post a Comment