Mushab Bin Umair ialah seorang pemuda yang berasal dari keluarga yang kaya. Wajahnya yang tampan pun semakin melengkapi kehidupannya. Ia tumbuh dalam kasih sayang dan kemanjaan dari orang tuanya. Suatu ketika, ia melihat rombongan orang-orang sering mendatangi pengajian rasul dan belajar agama di suatu tempat. Ia pun penasaran dan akhirnya secara diam-diam mengikuti mereka dan datang pada rasul. Disana, ia begitu terpana akan ayat-ayat Allah yang ia dengar. Ia memiliki seorang ibu yang sangat disegani karena pendiriannya yang begitu kuat. Dan ketika Mushab bin Umair masuk islam, tak ada ketakutan yang ia rasakan kecuali kekhawatirannya pada ibunda tercinta yang begitu kukuh pada berhalanya.
Hingga pada suatu saat, ada seorang bernama Usman Bin Thalhah melihat Mushab Bin Umair mengikuti pengajian dan shalat seperti rasulullah. Ia pun menyampaikan keislaman Mushab pada ibunya dan begitu marahlah ia pada Mushab hingga ia pun di kurung di rumah dan tidak boleh pergi keluar. Ia pun mencari cara agar bisa keluar, dan berhasil. Dengan segera Mushab ikut hijrah bersama rasullalu kembali lali ke Mekah. Ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mushab pada agama sebelumnya, maka ia pun mengusirnya dan sekarang Mushab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang didapatnya selama ini. Namun, jiwanya sekarang telah dihiasi oleh keindahan islam yang membuatnya merasa jauh lebih baik.
Suatu hari, ia dipilih rasulullah untuk mengemban amanah penting. Ia menjadi duta pertama untuk pergi ke Madinah mengajarkan seluk beluk Islam pada orang-orang anshar yang telah beriman dan berbai’at pada rasul. Ia pun pergi dan menjalankan misinya. Walaupun sempat mengalami banyak tentangan, namun ia berhasil melewatinya dan islam pun tersebar di hampir seluruh penduduk Madinah. Kesuksesan ini kian menambah geram orang-orang Quraisy pada rasul dan ajarannya, hingga terjadilah perang Uhud.
Tidak seperti perang Badar, disini kaum muslimin tidak mendapat kemenangan. Terjadi kekacauan dalam tentara kaum muslimin ketika mereka yang berada di bukit turun kebawah tanpa komandu rasul, mereka melihat bahwa tentara Quraisy sudah kalah dan berbondong-bondong turun kebawah, padahal saat situasi seperti ini, pasukan Quraisy kembali menyerang dan sempat mengancam keselamatan kaum muslimin dan rasulullah.
Disini, Mushab bertempur dengan tekadnya yang besar. Sebelah tangannya memegang bendera sedang tangan lainnya memegang pedang. Namun sayang, ketika dalam peperangan, Ibnu Qumaiah seorang musuh, menebas tangannya hingga putus, sementara ia berucap ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa rasul’, kedian ditebaslah lagi tangan kirinya itu, dan sambil tertatih ia kembali berucap ‘Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa rasul’. Lalu orang berkuda itu kembali menyerangnya yang ketiga kali dengan tombak dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mushab pun akhirnya gugur. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada.
No comments:
Post a Comment