Thursday, 5 July 2012

Ujian Hidup Sampai Akhir Hayat

Ujian hidup, dua kata yang terdengar cukup berat dan membuat kita menghembus nafas lebih panjang. Setiap manusia yang sudah terlahir ke dunia ini harus menerima setiap konsekuensi yang ditetapkan baginya. Ia akan menemui berbagai macam kesenangan hidup, bahagianya berkumpul dengan keluarga, senangnya berbagi dengan pasangan, puasnya gelar pendidikan yang tinggi, dan berbagai macam kesenangan lainnya. Namun disatu sisi, manusia juga harus menerima setiap kerikil tajam yang akan menghampiri hidupnya. Menghampiri setiap detik langkahnya.

Setiap cobaan yang ditetapkan untuk manusia, bisa saja datang bertubi-tubi. Sampai kita merasa tak kuat lagi, tak tahan lagi dengan kehidupan ini. Bisa jadi harta yang telah kita usahakan bertahun-tahun hilang dalam sekejap, pendidikan yang tinggi tak kunjung membuahkan pekerjaan, orang yang sangat kita cintai pergi meninggalkan kita, penyakit serius membuat kita tak mampu lagi beraktivitas, atau bahkan aib aib buruk kita yang tersebar ke publik. Semuanya ialah hal yang mungkin saja kita alami nanti. 

Sejatinya, setiap hal yang terjadi ialah atas kehendak Allah. Ia menimpakan kita berbagai macam kebaikan dan keburukan. Kebaikan yang yang ia turunkan semata-mata ialah untuk membahagiakan kita, tapi bisa saja ia menjadi ujian apakah kita masih akan tetap bersyukur atau malah kufur. Begitupun dengan keburukan yang ia timpakan pada kita, semuanya ialah cobaan terhauntuk para  hamba Allah. Ujian ditimpakan-Nya untuk melihat sejauh apa kita mampu bertahan, bertahan untuk-Nya. Allah mencintai kita melebihi diri kita sendiri. Apakah mungkin Ia memberi cobaan untuk menyakiti kita? tentu tidak, Ia hanya ingin melihat apakah dengan ujian-ujian itu kita masih tetap menyembahnya ataukah justru berpaling dan menjauh. 

Allah Maha tahu keadaan diri kita. Ketika seorang manusia merasa tak kuat lagi dengan beban kehidupan yang dipikulnya, janganlah lupa akan janjinya bahwa Ia tak kan menguji sesuatu diluar kemampuan kita. Itu artinya, seberat dan seburuk apapun yang yang terjadi, kita pasti bisa melewatinya. Kesabaran dan keteguhan hatilah yang harus terus diperjuangkan untuk itu semua. 

Iman yang ada dalam diri kita memang selalu naik dan turun. Suatu saat, jikalau kita berada dalam keimanan terendah dan ujian datang kian menghimpit, kembalilah lagi padaNya, datanglah lagi dan mohonlah ampun padaNya. Sesungguhnya ia selalu menerima kita dan mencintai kita. Ingatlah Ia selalu agar Ia pun selalu ingat pada kita. 

Percayalah, ketika setiap hamba diuji olehNya, mungkin saat itu kita sudah melangkah terlalu jauh dariNya. Ia yang Maha Pengasih sangat ingin hamba-hambanya bersih dari dosa, lalu Ia turunkan cobaan hidup untuk menggugurkan dosa-dosa kita yang sudah menggunung. Betapa penyayangnya Allah jika kita mau melihat hal buruk dari sudut pandang yang lain. Abu Al Mughiroh berkata, Allah mencintai kita padahal ia tidak membutuhkan kita, sedang kita marah kepadaNya padahal kita membutuhkanNya. Maka, alasan apa lagi yang membuat kita marah padaNya jika nanti cobaan datang pada kita?

Saudaraku, ujian hidup itu selalu datang sampai kita menghembuskan nafas terakhir kita. Setiap kali suatu ujian terselesaikan, maka akan datang lagi ujian lain dengan bentuk yang beragam. Tetaplah bersabar dan berdoalah agar hati kita tetap tertaut padaNya. Janganlah berputus asa dari rahmatNya, Ia tak pernah menginginkan keburukan pada kita, justru Ia selalu berharap kemudahan bagi diri kita. Setiap ujian-ujian hidup pada akhirnya hanya akan bermuara pada dua pilihan. Apakah Allah yang kita pilih, ataukah Illah lain selainNya. Ya, Allah hanya ingin menguji, apakah kita bisa benar-benar mencintaiNya. Memilih Ia ketika begitu banyak orang-orang menyayangi kita, ketika begitu banyak orang yang menghujat kita.  Sungguh hanya Allah lah tempat kembali, semoga Allah selalu menautkan kembali hati kita padaNya setiap kali kita pergi menjauh dan membuatNya kecewa.

No comments:

Post a Comment