Saturday, 12 January 2013

Kenek Jadi-jadian

Sore itu , sepulang mengajar di salah satu tempat les di kota Bandung, seperti biasanya aku pun berjalan menghampiri tempat duduk– tempat mangkal ojek- untuk menunggu bis yang akan membawaku pulang ke rumah. Rintik-rintik hujan yang sedari tadi menemani kepulanganku pun perlahan hilang. Tak terasa beberapa menit berlalu hingga bis yang ku tunggu pun tiba. Dengan sumringah karena cepatnya ia datang membuat ku bangkit seketika dan langsung naik kedalam bis. Aku sengaja memilih kursi paling  pinggir di dekat pintu, karena aku sangat paham bahwa beberapa menit lagi bis itu akan menjadi sangat penuh, ya penuh, sesak sesesak-sesaknya. Dan jika saja aku pilih kursi di bagian tengah, apalagi belakang, pasti akan sangat sulit bagiku untuk turun nanti. 

Sebenarnya yang aku tumpangi ini bukanlah bis, banyak orang bilang ini namanya kotrima. Ya apapun itu, entah kotrima, kobutri, dll aku tetap ingin menyebutnya bis, agar terlihat simple dan mudah dibayangkan – Sebenarnya sih karena aku ga tau apa bedanya kotrima, kobutri, dan bis ! :p –.

Setelah melewati satu perempatan dan beberapa titik macet di pusat kota Bandung ini, bis pun akhirnya melewati satu pabrik dimana banyak sekali karyawannya yang baru saja keluar pabrik. Baju mereka yang berwarna biru terlihat seperti bobotoh Persib yang keluar dari stadion, hhaaa aku tertawa saja membayangkannya. Tak berapa lama bis pun mulai sesak oleh para penumpang berbaju biru tadi.

Setiap akhir minggu aku lewati seperti hari ini, sehingga sudah sangat terbiasa dengan penuh sesak dan nyanyian para pengamen di bis ini. Namun ternyata ada hal yang tak biasa hari ini. Ya, aku baru saja sadar bahwa tak ada kenek di bis ini! Hhaa biasanya baru saja duduk di kursi, sang kenek sudah langung menghampiri menagih rupiah, tapi hari ini ia sungguh tak terlihat batang hidungnya.

Aku mulai memikirkan hal tak penting ini. Kasian sekali supirnya, mengemudi sendirian tak ditemani sang kenek tercinta. Lalu bagaimana jika ada penumpang yang turun dan lupa tidak membayar? Atau bahkan memang sengaja pura-pura sudah bayar? Atau mungkin penumpang yang baik akan membayar dahulu kedepan dan kemudian turun? Atau mungkin sebenarnya dia itu pencuri bis yang diam-diam mencari rupiah? Yaa hal-hal seperti itulah yang berkecamuk dibenakku saat itu. Benar-benar tidak penting.

Rupanya, bukan aku saja yang punya imajinasi seperti itu, para karyawan pabrik tadi yang semuanya perempuan pun ternyata menyadari hal yang sama. Mereka mulai bertanya satu persatu pada sopir tentang keberadaan keneknya. Setelah sadar bahwa tak ada kenek di bis ini, tiba-tiba salah satu dari karyawan pabrik tadi yang duduk tepat disebelah sopir berdiri. Aku pikir hanya bercanda, ternyata dia benar-benar memungut uang dari penumpang lain. Hhaaa aku kaget melihatnya, wanita cantik bertubuh mungil itu ternyata punya keahlian yang cukup bagus dalam hal tagih menagih uang. Tak hanya teman-temannya saja yang menertawakannya saat itu, ia sendiri pun tertawa melihat tingkahnya. Setelah menagih semua fee penumpang ia pun dengan cekatan memberi uang tersebut pada pak sopir. Kami semua terhibur walau dengan kejadian singkat itu.

Sebenarnya banyak sekali cerita-cerita konyol yang terjadi didalam bis, tak hanya hari itu saja aku mengalaminya. Yang pasti, jika kita mau mencoba untuk menikmati semua kejadian, pasti akan banyak hal-hal baru yang kita dapatkan. Persis seperti kenek jadi-jadian tadi.  :D

2 comments:

  1. Kenapa ga kamu aja yang jadi kenek? dasar gupiis!!

    ReplyDelete
  2. huahahhaha ga dong, soalnya ade ga kemukaan mas klo jadi kenek, klo mas baru... wkwkwkww

    ReplyDelete