Sore itu , sepulang mengajar di
salah satu tempat les di kota Bandung, seperti biasanya aku pun berjalan
menghampiri tempat duduk– tempat mangkal ojek- untuk menunggu bis yang akan
membawaku pulang ke rumah. Rintik-rintik hujan yang sedari tadi menemani
kepulanganku pun perlahan hilang. Tak terasa beberapa menit berlalu hingga bis
yang ku tunggu pun tiba. Dengan sumringah karena cepatnya ia datang membuat ku
bangkit seketika dan langsung naik kedalam bis. Aku sengaja memilih kursi
paling pinggir di dekat pintu, karena
aku sangat paham bahwa beberapa menit lagi bis itu akan menjadi sangat penuh,
ya penuh, sesak sesesak-sesaknya. Dan jika saja aku pilih kursi di bagian tengah,
apalagi belakang, pasti akan sangat sulit bagiku untuk turun nanti.
Sebenarnya yang aku tumpangi ini
bukanlah bis, banyak orang bilang ini namanya kotrima. Ya apapun itu, entah
kotrima, kobutri, dll aku tetap ingin menyebutnya bis, agar terlihat simple dan
mudah dibayangkan – Sebenarnya sih karena aku ga tau apa bedanya kotrima,
kobutri, dan bis ! :p –.
Setelah melewati satu perempatan
dan beberapa titik macet di pusat kota Bandung ini, bis pun akhirnya melewati
satu pabrik dimana banyak sekali karyawannya yang baru saja keluar pabrik. Baju
mereka yang berwarna biru terlihat seperti bobotoh Persib yang keluar dari stadion,
hhaaa aku tertawa saja membayangkannya. Tak berapa lama bis pun mulai sesak
oleh para penumpang berbaju biru tadi.
Setiap akhir minggu aku lewati
seperti hari ini, sehingga sudah sangat terbiasa dengan penuh sesak dan
nyanyian para pengamen di bis ini. Namun ternyata ada hal yang tak biasa hari
ini. Ya, aku baru saja sadar bahwa tak ada kenek di bis ini! Hhaa biasanya baru
saja duduk di kursi, sang kenek sudah langung menghampiri menagih rupiah, tapi
hari ini ia sungguh tak terlihat batang hidungnya.
Aku mulai memikirkan hal tak
penting ini. Kasian sekali supirnya, mengemudi sendirian tak ditemani sang
kenek tercinta. Lalu bagaimana jika ada penumpang yang turun dan lupa tidak
membayar? Atau bahkan memang sengaja pura-pura sudah bayar? Atau mungkin
penumpang yang baik akan membayar dahulu kedepan dan kemudian turun? Atau
mungkin sebenarnya dia itu pencuri bis yang diam-diam mencari rupiah? Yaa
hal-hal seperti itulah yang berkecamuk dibenakku saat itu. Benar-benar tidak
penting.
Rupanya, bukan aku saja yang
punya imajinasi seperti itu, para karyawan pabrik tadi yang semuanya perempuan
pun ternyata menyadari hal yang sama. Mereka mulai bertanya satu persatu pada
sopir tentang keberadaan keneknya. Setelah sadar bahwa tak ada kenek di bis
ini, tiba-tiba salah satu dari karyawan pabrik tadi yang duduk tepat disebelah
sopir berdiri. Aku pikir hanya bercanda, ternyata dia benar-benar memungut uang
dari penumpang lain. Hhaaa aku kaget melihatnya, wanita cantik bertubuh mungil
itu ternyata punya keahlian yang cukup bagus dalam hal tagih menagih uang. Tak
hanya teman-temannya saja yang menertawakannya saat itu, ia sendiri pun tertawa
melihat tingkahnya. Setelah menagih semua fee penumpang ia pun dengan cekatan
memberi uang tersebut pada pak sopir. Kami semua terhibur walau dengan kejadian
singkat itu.
Sebenarnya banyak sekali
cerita-cerita konyol yang terjadi didalam bis, tak hanya hari itu saja aku
mengalaminya. Yang pasti, jika kita mau mencoba untuk menikmati semua kejadian,
pasti akan banyak hal-hal baru yang kita dapatkan. Persis seperti kenek
jadi-jadian tadi. :D
Kenapa ga kamu aja yang jadi kenek? dasar gupiis!!
ReplyDeletehuahahhaha ga dong, soalnya ade ga kemukaan mas klo jadi kenek, klo mas baru... wkwkwkww
ReplyDelete