Sunday, 1 July 2012

Utu Ku Sayang, Utu Ku Malang

Kepada para pembaca setia, saya akan jelaskan bahwa utu bukanlah sepotong makanan, pakaian, apalagi merk sepatu. Ia adalah seekor anak kucing hutan yang kami pelihara. Umurnya masih sangat muda, sekitar 2 bulan. Wajahnya begitu imut dan mungil, namun nampak sedikit sangar, mungkin bisa dibilang malah mirip macan.  Warna bulunya cokelat  loreng hitam keemasan, terlihat unik dan sangat lucu. Utu bukanlah sejenis kucing yang bersuara meong meong, suara serak namun tegasnya terdengar begitu nyaring dan menggemaskan. Benar-benar makhluk dari hutan. Kami begitu menyayanginya, semua tingkah laku Utu mengundang senyum dan membuat penasaran.

Ketika pertama kali ia tiba di rumah kami, badan kecilnya terlihat amat rapuh. Berjalan pun ia begitu tertatih, minum pun belum bisa sendiri sehingga kami terus menyuapinya. Suatu hal yang cukup berbeda, karena bukanlah kultur keluarga kami untuk memelihara kucing apalagi kucing hutan, namun kedatangan Utu kerumah ini telah aku nantikan sejak lama dan kami semua menerima Utu dengan senang hati.

Makhluk mungil dan menggemaskan ini benar-benar membuat hidup kami lebih berwarna. Kami melakukan banyak hal dengan lebih bersemangat, seolah punya anggota keluarga baru. Kami menyiapkan kandang untuknya, membeli semua perlengkapan yang ia butuhkan, dari mulai tempat makan, makanannya, sampai pasir untuk tempatnya buang air.

Setiap pagi, siang dan malam hari, kami memberinya makan. Beberapa hari pertama kami selalu menyuapinya, namun kemudian Utu mulai mengerti bagaimana cara makan, dan ia pun sudah mulai bisa makan sendiri. Kami benar-benar semakin menyayangi Utu.
Setiap hari, Utu semakin lincah dan bersahabat dengan kami. Ia selalu mengikuti kami kemanapun kami melangkah. Ia berlari kesana kemari mengikuti gerakan kaki dan tangan kami. Sering setiap kali selesai makan, Utu naik ke telapak tangan kami dan langusng tertidur dengan pulasnya. Semua hal tersebut membangun keeratan diantara kami.

Utu, sekarang kau telah tiada. Kami bahkan kami tidak pernah tahu persis apa penyebab kematianmu. Sungguh suatu hal yang sangat menyedihkanku kala harus berpisah dengan seekor kucing yang sudah aku anggap bagian keluargaku. Benar, Utu memang hanya seekor anak kucing, tapi ia lebih dari sekedar itu bagiku. Tak akan ada lagi suaranya yang khas, tak bisa kulihat lagi larinya yang lincah, tak bisa lagi kuraih kakinya saat ingin menggendongnya, dan tak bisa lagi aku elus bulu halusnya yang indah itu.

Utu, walaupun hanya 11 hari engkau hadir di  kehidupan kami, tapi kenangan itu tak kan pernah kami lupakan. Terima kasih atas semua hal yang telah kau beri untuk kami, candamu, elusanmu, dan juga keindahanmu. Semoga Allah mempertemukan kita lagi kelak. Kami benar-benar akan selalu merindukanmu Utu...  :’)


1 comment: